Gen Z harus independen dalam berpikir. Tidak mudah dikendalikan. Termasuk lewat FYP TikTok.
TikTok saat ini menjadi wadah kampanye politikus. Gen Z sebagai bagian dari pemilih Pemilu 2024 dengan presentase terbesar menjadi sasaran dalam kampanye lewat TikTok.
FYP adalah konten yang paling awal disajikan untuk pengguna Tiktok. FYP ini berdasarkan suka dan tidak. Kampanye yang masuk ke TikTok cenderung berakhir dengan mengabaikan kebenaran.
Sebab basis kesukaan tadi membuat bila Gen Z tidak suka maka akan video di skip dan hilang dari FYP. Sedangkan video yang disuka walau merupakan kesalahan maka akan terus muncul dan merasuki pikiran manusia. Mekanisme atau bahasa gaulnya Algoritma ini selaras dengan sifat Gen Z.
Algoritma FYP TikTok itu kemudian diperparah juga dengan ketidaksukaan Gen Z untuk membaca atau mencari informasi lebih lengkap. Jadinya seperti yang disampaikan sebelumnya: kebenaran bukan berdasarkan benar atau salah tapi berdasarkan suka atau tidak.
Pada akhirnya kampanye politikus mudah masuk dalam pikiran mereka. Jadi tak heran saat ini video dan komentar yang muncul di Tiktok cenderung saling menghabisi satu sama lain, saling merendahkan. Black campaign akhirnya secara tidak langsung diwajarkan.
Fenomena ini sejatinya selalu muncul dalam pemilu. Pesta demokrasi ini selalu membelah masyarakat menjadi beberapa bagian akibat black campaign. Kebenaran pun berubah makna bukan lagi bergeser.
Istilah saat ini yaitu Post Truth yaitu pasca kebenaran. Artinya kebenaran bukan lagi seperti pengertian yang asli yaitu berdasarkan fakta, data, atau realitas. Tetapi berdasarkan siapa yang paling banyak membahas itu. Nanti yang paling banyak membahas akan menjadi kebenaran baru terlepas betul atau tidak.
Tahun ini Gen Z menjadi lebih mudah dipengaruhi dengan FYP yang berbasis suka dan tidak tadi. Apalagi pemikiran Gen Z itu biasanya abu-abu: idealis tapi tidak punya idealisme, pragmatis tapi menutup mata terhadap realitas. Sehingga hanya kesukaan mereka yang dijadikan pedoman.
Lalu politikus seperti namanya, tikus selalu mencari kesempatan untuk mengambil remah-remah kue yang ada di meja makan. Bahkan tak segan membuat orang rumah ribut hanya untuk memuluskan niatnya.
Sikap Gen Z akhirnya dimanfaatkan politikus. Maka wajarlah pemerintahan yang akan muncul nanti akan begitu-begitu saja. Karena selain politikus yang hanya memanfaatkan Gen Z semata. Gen Z juga yang berbasis kesukaan tadi cenderung hanya memilih Pilpres tanpa mempedulikan Pileg, sehingga tidak ada perubahan berarti di pemerintahan.
Maka dari itu Gen Z seharusnya lebih jernih lagi dalam berpikir. Jangan terjebak dalam post truth atau jangan mudah mengikuti arus hanya karena suka dan tidak suka terhadap sesuatu.
Demokrasi yang membebaskan adanya semua opini dan pendapat masyarakat harusnya dibarengi dengan cerdas dalam mengolah informasi. FYP yang berdasarkan suka dan tidak harusnya membuat Gen Z sadar kalau opini itu mudah sekali dikendalikan.
Saya lebih suka slogan dari Komika Bintang Emon yang akhir-akhir ini digaungkan. Sebab lebih masuk ke dalam karakter Gen Z yang harusnya cenderung ingin independen. Slogan tersebut yaitu:
“Kita seharusnya lebih baik menjadi pemilih bukan pendukung.”*
*Fikri Rahmat Utama – Kota Bogor
