What is the greatest gift someone could give you?
Orang tua saya selalu berusaha untuk memenuhi permintaan saya walaupun harus berutang.
Sepanjang saya hidup mungkin tidak banyak barang mewah yang saya miliki. Barang mewah yang sebagian besar dimiliki anak seusia saya.
Saya tumbuh dalam kondisi keluarga yang biasa saja. Tidak kaya tidak juga miskin. Kebutuhan terpenuhi tidak lebih tidak kurang.
Orang tua saya hanya berprofesi sebagai tukang bentor dan ibu rumah tangga biasa. Tapi mampu menghidupi saya seorang diri sebagai anak tunggal di keluarga.
Mungkin ada yang berpikiran saya anak tunggal menjadi lebih mudah dalam hidup. Bisa mendapatkan apapun yang diinginkan tanpa harus berbagi dengan orang lain.
Tapi kenyataannya tidak, saya hidup dalam dengan keterbatasan dalam hal meminta sesuatu. Seperti saya sampaikan di atas hidup saya hanya terpenuhi, ini maksudnya hal pokok yang terpenuhi sedangkan keinginan terkadang harus dibendung.
Sejak kecil saya punya keinginan yang kuat terhadap barang tertentu. Bisa mainan, bisa buku, bisa apapun itu yang mungkin saya juga lupa apa.
Tapi orang tua saya tidak mampu membeli itu. Uang yang kami miliki hanya habis untuk kebutuhan sehari-hari. Tidak bisa terpenuhi untuk keinginan yang teramat besar.
Saya ingat beberapa pemberian orang tua yang menurut saya merupakan pemberian terbaik seperti yang ditanyakan dalam lead pembuka di atas.
Sepeda, sepatu, baju, handphone, dan motor. Semua itu pemberian terbaik yang pernah saya miliki dari orang tua hingga saat ini.
Mungkin ada yang berpikiran kenapa barang-barang biasa di atas dianggap sebagai pemberian terbaik. Padahal seharusnya pemberian terbaik itu barang mewah yang mahal dan sebagainya.
Namun bagi saya tidak seperti itu. Barang terbaik yang pernah diberikan orang tua saya yaitu barang yang dia dapatkan dari hasil berutang ke orang lain.
Utang itu merupakan salah satu jebakan bagi manusia. Sekalinya berutang pasti akan berutang lag. Tapi bagi orang tua saya tidak masalah selama keinginan saya terpenuhi.
Sebenarnya barang yang dia utang kan itu tidak mahal-mahal untuk sebagian orang. Tapi tetap saja bagi kami itu tidak bisa dijangkau.
Saya ingat sekali motor dan hp yang sempat saya pakai di Makassar sebelum pindah ke Jawa itu adalah hasil utang. Orang tua saya hanya mampu lewat situ.
Usaha keras yang dilakukan oleh orang tua saya demi keinginan terbesar yang dimiliki anaknya membuat saya banyak belajar akan makna kerja. Orang tua yang demi kesenangan rela berutang padahal belum tentu bisa dibayar nantinya.
Setelah bekerja, saya kemudian menanamkan ke diri sendiri bahwa saya harus bisa lebih baik dari mereka. Saya berutang Budi terhadap orang tua saya atas semua keinginan yang saya miliki.
Nantinya saya harus membayar utang Budi tersebut. Saya tidak mau lagi mereka harus berutang untuk memenuhi keinginan sendiri atau anaknya. Saya ingin utang budi yang saya miliki karena dia berutang bisa lunas budi.
Walaupun sulit menjalani hidup tanpa utang. Sebab utang budi saja jadi kata dan tidak ada kata lunas budi.*
*Fikri Rahmat Utama – Kota Bogor
